TAHLILAN (SELAMATAN KEMATIAN) ADALAH BID’AH MUNKAR

TAHLILAN ( SELAMATAN KEMATIAN ) ADALAH BID’AH MUNKAR DENGAN IJMA’  PARA SHAHABAT DAN SELURUH ULAMA ISLAM

Dari Jarir bin Abdullah al Bajalii, ia berkata,” Kami(yakni para shahabat semuanya) memandang/menganggap(yakni menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit dan membuat makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.”

(Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah no.1612 dan Imam Ahmad di Musnadnya, dengan sanad yang shahih)

Atas hadits atau atsar diatas, para ulama Islam telah ijma’ atau sepakat dalam beberapa hal :

Pertama : Mereka ijma atas keshahihan hadits tersebut dan tidak ada seorangpun ulama yang mendhoifkan hadits ini.

Kedua : Mereka ijma dalam menerima hadits atau atsar dari ijma para shahabat yang diterangkan oleh Jarir bin Abdulloh. Yakni tidak ada seorangpun ulama yang menolak atsar ini.

Ketiga : Mereka ijma dalam mengamalkan hadits atau atsar di atas. Mereka dari jaman shahabat sampai jaman kita sekarang ini, senantiasa melarang dan mengharamkan apa yang telah diijmakan oleh para shahabat yaitu berkumpul-kumpul ditempat atau di rumah ahli mayit yang bias kita kenal di negeri kita ini dengan nama ” Selamatan Kematian atau Tahlilan”.

Hadits atau atsar ini memberikan hokum dan pelajaran yang tinggi bagi kita, bahwa berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit dan makan makan disitu termasuk bid’ah munkar. Dan bertambah lagi bid’ahnya apabila disitu diadakan upacara yang biasa kita kenal disini dengan nama “Selamatan kematian atau tahlilan” pada hari pertama dan seterusnya.

Hukum diatas berdasarkan ijma para shahabat yang telah memasukan perbutan tersebut kedalam bagian meratap. Sedangkan meratapi mayit hukumnya haram(dosa) bahkan termasuk dosa besar dan termasuk salah satu adat jahiliyah.

Fatwa Para Ulama Islam Dan Ijma Mereka Dalam Masalah Ini

Apabila para shahabat telah ijma tentang suatu masalah, seperti masalah yang dibahas ini, maka para tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan termasuk didalamnya imam yang empat dan seluruh ulama Islam dari zaman ke zamanpun mengikuti ijma’nya para shahabat yaitu berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit dan makan-makanan disitu adalah haram dan termasuk dari adat/kebiasaan kaum jahiliyah.

Oleh karena itu , agar supaya para pembaca yang terhormat mengetahui atas dasar ilmu dan hujah yang kuat, maka dibawah ini diturunkan sejumlah fatwa para ulama dan ijma’ mereka dalam masalah ’selamatan kematian’: Baca selebihnya »

NASEHAT UNTUK SAHABAT

Nasihat Untuk Sahabat

 

Sahabat,

Bersama kita mulai belajar

Untuk tidak memiliki sesuatu

Apa yang pernah Rabb berikan

Apa yang pernah Rabb kasihkan

Apa yang pernah Rabb titipkan

Semuanya milik yang Maha Rahmaan

 

Jadi adakah bagi kita alasan

Untuk merasa keberatan

Jika sebagian harta kita sisihkan

Jika sebagian kerat roti kita berikan

Jika sebagian waktu kita infakkan

Jika sebagian permata kita dermakan

Pada saudara kita yang lebih membutuhkan

 

Ataukah

Engkau merasa akan dilanda kemiskinan

Baca selebihnya »

TUJUH KERUSAKAN PERAYAAN MAULID NABI

Tujuh Kerusakan Perayaan Maulid Nabi

Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Di dalam kitab beliau, Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah wat Thoifah Al-Manshuroh, Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menjelaskan kerusakan dan penyimpangan acara peringatan Maulid Nabi. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama: Kebanyakan orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid terjatuh pada perbuatan syirik, yakni ketika mereka menyanyikan bait-bait syair (nasyid-nasyid atau qosidah) pujian kepada Rasulullah dalam acara itu (yang sering di sebut sholawatan). Mereka mengatakan:

يا رسول الله غوثا و مدد يا رسول الله عليك المعتمد
يا رسول الله فرج كربنا ما رآك الكرْبُ إلا و شرَد

“Wahai Rasulullah, berilah kami pertolongan dan bantuan.
Wahai Rasulullah, engkaulah sandaran kami.
Wahai Rasulullah, hilangkanlah derita kami.
Tiadalah derita itu melihatmu, kecuali ia akan melarikan diri. “

Sungguh, seandainya saja Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam hidup dan mendengar nyanyian tersebut, tentu beliau akan menghukuminya dengan syirik besar (bahkan beliau pasti akan melarang mereka dari perbuatan tersebut). Mengapa? Karena pemberian pertolongan, tempat sandaran dan pembebasan dari segala derita hanyalah Allah Ta’ala saja.

Allah Ta’ala berfirman:
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan (siapakah pula) yang menghilangkan kesusahan….”(QS. An-Naml: 62).

Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah shollahu ‘alaihi wa sallam agar menyampaikan kepada segenap manusia:

قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا رَشَدًا

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan….” (QS. Al-Jin: 21).

Bahkan Nabi Muhammad shollahu ‘alaihi wa sallam sendiripun bersabda (dalam rangka memberi nasehat kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan juga umat beliau lainnya):

إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah). ” HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: “Hadits ini Hasan Shohih”).

Kedua: Mayoritas perayaan maulid yang diadakan itu di dalam terdapat sikap Al-Ithro’ (berlebih-lebihan) dan menambah-nambah dalam menyanjung (memuji) Nabi shollallahu ‘alahi wa sallam. Padahal Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut dalam sabda beliau:

لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku tak lebih hanya seorang hamba, maka katakanlah (tentang aku) ‘Abdulllah (Hamba Allah) dan Rasul-Nya!’” (HR. Al-Bukhari).

Kemudian dalam acara Maulid itu juga, sering dibacakan kitab Diba’ yang berisi sejarah perjuangan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam salah satu syair kitab ini menceritakan dan diyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Muhammad sholallahu ‘alahi wa sallam dari cahaya-Nya, lalu Ia menciptakan segala sesuatu dari Nur Muhammad (cahaya Muhammad).

Baca selebihnya »

HUKUM MEMPERINGATI MAULID NABI

Hukum Memperingati Maulid Nabi

Penulis: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah

Sungguh banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh kebanyakan kaum muslimim tentang hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad sholallahu ‘alahi wa sallam dan hukum mengadakannya setiap kelahiran beliau.

Adapun jawabannya adalah: TIDAK BOLEH merayakan peringatan maulid nabi karena hal itu termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama ini, karena Rasulullah tidak pernah merayakannya, tidak pula para Khulafaur Rasyidin dan para Sahabat, serta tidak pula para tabi’in pada masa yang utama, sedangkan mereka adalah manusia yang paling mengerti dengan As-Sunnah, paling cinta kepada Rasulullah, dan paling ittiba’ kepada syari’at beliau dari pada orang–orang sesudah mereka.

Dan sungguh telah tsabit (tetap) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Barang siapa mengadakan perkara baru dalam (agama) kami ini yang tidak ada asal darinya, maka perkara itu tertolak. “(HR. Bukhari Muslim).

Dan beliau telah bersabda dalam hadits yang lain : “(Ikutilah) sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk sesudahku. Peganglah (kuat-kuat) dengannya, gigitlah sunnahnya itu dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara yang diadakan-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat. (HR. Tirmidzi dan dia berkata : Hadits ini hasan shahih).

Dalam kedua hadits ini terdapat peringatan yang keras terhadap mengada-adakan bid’ah dan beramal dengannya. Sungguh Alloh telah berfirman : “Apa yang telah diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. “(QS. Al-Hasyr : 7).
Alloh juga berfirman : “Maka hendaknya orang yang menyalahi perintah-Nya, takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. “(QS. AN-Nuur : 63).

Allah juga berfirman : “Orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Dan Allah menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya ada sungai-sungai yang mengalir, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. “(QS. At-Taubah : 100).

Allah juga berfirman : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agamamu. “(QS. Al Maidah : 3). Dan masih banyak ayat yang semakna dengan ini.

Mengada-adakan Maulid berarti telah beranggapan bahwa Allah ta’ala belum menyempurnakan agama ini dan juga (beranggapan) bahwa Rasulullah belum menyampaikan seluruh risalah yang harus diamalkan oleh umatnya. Sampai datanglah orang-orang mutaakhirin yang membuat hal-hal baru (bid’ah) dalam syari’at Allah yang tidak diijinkan oleh Allah. Baca selebihnya »

DUKUN PONARI DAN FENOMENA BATU PETIR

DUKUN PONARI DAN FENOMENA BATU PETIR

Penulis : Ustadz Jafar Salih

Ponari, nama yang sederhana, sesederhana orangnya. Tidak ada yang istimewa pada sosok bocah sepuluh tahun ini sampai suatu hari ia menemukan sebuah batu yang dikenal belakangan  dengan sebutan “batu petir” dan konon diyakini “sakti”, paling tidak oleh ribuan orang yang telah menjadi pasiennya. Batu yang dengan sekali celup, air celupannya bisa mengobati segala macam penyakit. Batu yang telah menjungkirbalikkan logika ribuan anak bangsa!

Ponari, begitu pula Dewi Sulistiyowati dan entah siapa lagi bakal menyusul, telah menjadi sebuah fenomena berkat batu yang mereka temukan. Tapi yang lebih fenomenal dari itu semua adalah ribuan atau bahkan jutaan ummat manusia yang “tersihir” dan percaya terhadap eksistensi “batu petir” dalam proses penyembuhan.

Bicara tentang batu, ummat Islam telah mengenal Hajar Aswad sebagai batu yang paling populer di tengah-tengah kehidupan beragama mereka, karena letak keberadaannya (di dinding Ka’bah) dan posisinya di dalam jiwa kaum muslimin, karena kaitannya dengan ibadah thawaf.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, satu-satunya tauladan ummat, di dalam thawafnya mencontohkan untuk mencium batu ini setiap kali melewatinya pada putaran thawaf atau menyentuhnya bagi yang mampu atau melambai ke arahnya. Demikian istimewanya batu ini, sampai-sampai thawaf tidak dianggap sah kalau tidak memulai thawaf dari arah yang sejajar dengannya. Sehingga jadilah batu ini salah satu dari syi’ar-syi’ar Islam yang wajib dimuliakan, menurut aturan syariat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”. (Qs. Al HaTapi kendati pun demikian, batu adalah batu, dia tidak bisa memberi manfaat kepada siapa pun, atau pun mencelakakannya. Adapun kita sampai menciumnya, itu tidak lebih semata-mata dalam rangka menauladani apa yang diperbuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai tauladan bagi manusia. Dan konsep ini sangat dipahami sekali oleh generasi pertama ummat ini, para salaf, sampai-sampai Umar bin Khattab Rhadiyallahu ‘Anhu, Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang kedua, ketika menciumnya, ia berkata, Baca selebihnya »

KEMUNGKARAN BERZANJI

KEMUNGKARAN BERZANJI

OLEH : Al-USTADZ RASUL DAHRI

Pada hakikatnya, kandungan Kitab Berzanji yang dianggap sebagai amalan suci apabila dibaca oleh sebagian besar masyarakat Islam, ternyata kitab ini dipenuhi oleh unsur-unsur yang bertentangan dengan akidah Islamiyah yang murni. Berzanji ditulis dalam bentuk syair, gaya bahasa dan pemilihan kata-katanya benar-benar sangat menggugah sekaligus begitu sukar untuk difahami, tetapi sangat sedap diucapkan dan merdu pula dilagukan. Karena dengan lagu yang mirip atau sama dengan membaca al- Quran, kesemuanya itu sebagai usaha untuk lebih mengesankan dan menarik para pendengarnya.

Demikian pula penghormatan orang awam kepada kitab-kitab maulid (berzanji) itu, hampir-hampir menyerupai penghormatan kepada al-Quran. Oleh karena itu, berzanji dijadikan kitab untuk wirid, berzikir, dibaca pada malam-malam tertentu seperti malam Jum’at, menyambut maulid Nabi, ketika ingin berpergian (musafir) atau pulang dari perjalanan (pelayaran) jauh, di hari perkawinan, di majelis tasyakuran, sebelum berkhitan, kenduri mencukur rambut bayi yang baru lahir dan lain-lainnya.
Dari rangkaian kata-kata dan kejadian ini, jika terus dikaji dan diselidiki, maka akan kita dapati dan boleh dibuktikan bahwa akan dipahami bahwa penggemar, pencinta atau pemuja Berzanji, antara penyebab mereka membacanya bukan melihat pada nilai di segi hukum syaranya,apakah isi kandungan Berzanji yang dibaca dan dilagukan itu bertentangan dengan syara atau tidak, yang penting pada mereka ialah sedap, enak dan merdunya melagukan Berzanji.

Berzanji dan kitab seumpamanya seperti Syaraful Anam, al-A’Zab dan ad-Daiba’i yang terkenal dengan ad-Deybaii adalah pencetus dan pengekal amalan pencinta maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa-sallam.

Antara cerita yang berlebih-lebihan yang membawa kepada ghuluw (melampaui batas) dan kesyirikan di dalam berzanji ialah:
Baca selebihnya »

MAULID DAN TAHLILAN

DONWLOAD AUDIO,MAULID & TAHLILAN, mp3 file

  • Judul       ; KUPAS TUNTAS MAULID DAN TAHLILAN
  • Pemateri ; Ustadz. Zainal Abidin bin Syamsudin
  • Durasi     ; 80 menit, 47 detik

“DOWNLOAD, Disini”

KETIKA SYIRIK DI ANGGAP BIASA

KETIKA SYIRIK DI ANGGAP BIASA

oleh:

ABU FIKRI ABDILLAH

“…Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.”

( QS. Ibrahim: 35)

Ketahuilah, semoga Alloh ta’ala merahmati kita semua, bahwa perkara terbesar yang Alloh ta’ala perintahkan adalah tauhid, yakni memurnikan ibadah hanya kepada Alloh, Dan perkara yang Alloh perintahkan untuk kita hindari sejauh jauhnya adalah syirik.

Seseorang dikatakan berbuat syirik bukan hanya ketika dia menyembah selain Alloh,semisal; orang hindu, budha dan lainnya, bukan hanya ketika seseorang meyakini adanya pencipta selain Alloh. Sehingga kalau tidak berbuat demikian berarti kita terbebas dari syirik.

Diantara fenomena syirik yang terjadi disekitar kita:

1. Mengagungkan ahli kubur
2. Makin larisnya dunia klenik dan perdukunan
3. Memakai jimat jimat
Untuk ikhwah sekalian silahkan men-download audio, mp3 file khutbah jum’at, berikut:

  • Khotib ; Abu fIKRI Abdillah
  • Materi ; Ketika syirik di anggap biasa
  • Waktu ; jum’at, 20 feb 2009
  • “DOWNLOAD, Disini”

DOWNLOAD KHUTBAH JUM’AT, 13 FEB 2009

Untuk ikhwah sekalian silahkan download khutbah jum’at berikut ini, dalam format mp3 :

* Hakekat Sombong , UST. ABDURRAHMAN, khutbah jum’at, 13 feb’09

EMPAT PERTANYAAN DI PADANG MASHYAR


*Judul: Siapkah Anda Menghadapi Empat Pertanyaan di Padang Mashyar?

*Penulis: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

*Sumber: Brosur Islamic Center Dammam

Setiap Muslim wajib mengetahui, mengenai Hari Akhir atau Hari Kiamat. Bahkan hal itu merupakan rukun iman yang kelima. Di dalam hadits-hadits shahih diterangkan bahwa setelah dunia ini hancur, manusia yang di dalam kubur dibangkitkan dan semua akan dikumpulkan oleh Allah di Padang Mashyar. Siapkah kita menghadapi peristiwa tersebut? Apa saja yang akan terjadi pada saat itu?

Pada saat itu manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala tentang segala macam yang telah dilakukan selama hidup di dunia ini. Pada hari itu tidak berguna harta, anak, tidak bermanfaat apa yang dibanggakan selama di dunia ini. Pada hari itu hanya ada penguasa tunggal, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan berbagai macam nikmat kepada manusia, kemudian Dia menyuruh menggunakan nikmat tersebut sebaik-baiknya dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Karena Allah telah menganugerahkan nikmat-nikmat itu kepada manusia, maka sangat wajar apabila Dia menanyakan kepada manusia untuk apa nikmat-nikmat itu digunakan.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya darimana ia peroleh dan kemana ia habiskan, dan badannya untuk apa ia gunakan.” (HR Tirmidzi dan Ad-Darimi)

Baca selebihnya »